Waspada Jika Pinggang Terasa Nyeri

  • Whatsapp
Waspada Jika Pinggang Terasa Nyeri
Waspada Jika Pinggang Terasa Nyeri

Stres Jadi Pemicu

Banyak masyarakat yang menduga bahwa masalah tulang belakang erat kaitannya dengan usia lanjut, padahal kenyataannya tidak demikian, banyak hal pemicunya, yang paling sering muncul adalah gaya hidupnya.

“Pasien yang datang usia produktif dari 20-30. Pemicunya adalah sikap dan pekerjaan yang salah, duduk terlalu lama dan continue, seperti berkendara, juga sedentari.”

Selain itu ada faktor risiko yang terkait dengan pekerjaan, termasuk kerja fisik yang berat, melakukan pekerjaan dengan posisi statis seperti berdiri diam atau duduk di satu tempat dalam waktu lama.

“Pada orang yang pekerjaannya sering menggerakkan misalnya polisi atau sopir taksi, biasanya sering mengalami gangguan nyeri leher,” katanya.

Stres juga berpengaruh. Lebih lanjut ia membahas stres juga mampu memicu. “Stres kaitannya dengan sikap badan yang tidak proporsional dan selain itu malas bergerak yang mengakibatkan tulang belakang bebannya terlalu berat.”

Banyak rumor beredar soal ketakutan masyarakat akan operasi tulang belakang. Data Riskesdas menyebutkan bahwa dari 10 pasien yang ditawarkan operasi, 9 memilih mencoba pengobatan lain di antaranya pengobatan non medis seperti herbal, tradisional atau akupuntur.

Di lain sisi beberapa orang juga meyakini bahwa operasi tulang belakang tinggi risiko kegagalan sehingga menyebabkan kelumpuhan.

Padahal nyatanya tidak demikian, teknologi bedah orthopedi sudah banyak berkembang, tujuannya untuk mengobati dengan seminimal mungkin intervensi.

“Risiko terjadi kelumpuhan dalam operasi tulang belakang itu multifaktorial. Ada risiko lumpuh kalau yang dioperasi di daerah tertentu yang vital, atau karena penyakit tertentu misalnya tumor dalam saraf, itu berisiko besar.”

Untuk operasi di area lumbar risiko untuk lumpuh hampir nihil. “Kalau di cervical kemungkinan terjadi lumpuh hanya di bawah 1 persen. Untuk di area thoracal 0,5 persen ke bawah. Apalagi di pinggang itu kelumpuhan bisa dibilang nol.”

Di sisi lain, teknologi bedah orthopedi sudah banyak berkembang salah satunya Minimally Invasive Surgery.

“Jadi seminimal mungkin organ yang dicederai. Tujuannya untuk meminimalisir rasa sakit pasca operasi.”

Dulu teknik operasi tulang belakang disebut dengan Laminektomi adalah prosedur pembedahan untuk membebaskan tekanan pada tulang belakang atau akar saraf tulang belakang yang disebabkan oleh stenosis tulang belakang yaitu dengan melakukan sayatan pada kulit, otot kemudian pada tulang belakang yang sebagiannya dibuang atau dikikis. Kemudian menyayat lagi ligamen untuk menyisihkan saraf, baru mengambil jepitan bantalan tulang pada pasien.

Bedah semacam itu tentunya menimbulkan luka besar, tentunya membutuhkan obat pereda rasa sakit yang kuat.

“Setelah operasi dibutuhkan painkiller yang kuat bahkan bisa morfin. Lalu recoverynya bisa lama sekali.”

Selain Minimally Invasive Surgery, tindakan operasi minimal sayatan juga dilakukan operasi endoskopi.

Operasi ini memberi efek yang sangat baik untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang belakang yang menjalar ke kaki yang biasanya disebabkan oleh jepitan saraf murni akibat HNP tanpa disertai pergeseran tulang belakang (instabilitas).

Dilansir WebMD, prinsip tindakan endoskopi adalah mengurangi atau mengambil bantalan HNP yang menjepit saraf sehingga saraf tersebut terbebas.

Jenis-jenis teknik endoskopi ada tiga, yaitu interlaminar, posterolateral, dan transforaminal. Yangpaling digemari adalah teknik transforaminal, teknik ini dapat dilakukan dengan bius lokal (pasien sadar) dengan posisi tengkurap, dengan satu lubang operasi dengan lebar hanya sekitar 0.5-0,8 sentimeter sehingga pada sebagian besar kasus tidak dibutuhkan jahitan (stitchless technique) atau operasi tanpa perlu jahitan. Hal tersebut dikarenakan instrumen-instrumen bedah yang digunakan berdiameter rata-rata 0.5 cm.

“Sekarang bisa di lakukan tindakan operatif dengan endoskopik, yang hanya butuh 8 mili meter tusukan dari kulit ke tulang belakang. Kita bisa langsung mengangkat jaringan patologis di tulang belakang.”

Hal penting yang diperlukan diperhatikan sebelum melakukan tindakan ini adalah pemeriksaan radiologis. Dokter bedah saraf anda akan menganjurkan anda untuk melakukan pemeriksaan X-ray tulang belakang (fleksi ekstensi lumbosakral) dan MRI Lumbosacral tanpa kontras.

Metode ini tidak melakukan perusakan yang berarti terhadap otot ligamen dan tulang. Sehingga dampaknya ke depan, struktur jaringan lebih bermanfaat karena kerusakan tidak berlanjut.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *